Sabtu, 21 Desember 2013

PENDIDIKAN MURAH UNTUK RAKYAT

Kira-kira apa yang ada di benak kalian nih, ketika mendengar ataupun melihat tulisan di atas?? Harapan/impian/tujuan (sama aja sih..:)) . Nah, inilah sebuah kalimat yang cukup Klasik untuk dibicarakan di era ini. Kenapa? Pada era 80an sebenarnya telah banyak dibicarakan mengenai Pendidikan murah untuk Rakyat.  Istilah Rakyat disini jangan disalah artikan sebagai orang-orang yang miskin/kecil, tetapi warga Indonesia yang memang belum berkesempatan menduduki jabatan di pemerintahan Indonesia.
Sedikit dari tulisan saya inilah yang kiranya menjadi hasil Seminar Nasional yang baru saja saya ikuti dengan tema Pendidikan Murah untuk Rakyat (Sabtu, 21 Desember 2013 di Convention Hall di kampus tercinta UIN Sunan Kalijaga), dengan pembicara yang luar biasa, Prof. Dr. Wuryadi (Ketua Dewan Pendidikan YK), Hairus Salim (Direktur Yayasan LKiS) dan Agus Suyatno (Pengamat Pendidikan). 
Istilah Pendidikan Murah untuk Rakyat ini lebih tepatnya apabila disebut dengan Pendidikan Kritis. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Hairus bahwa dengan pendidikan murah belum tentu pendidikan yang diperoleh berkualitas. Walaupun memang kita sangat menginginkan Pendidikan yang murah dan berkualitas. Pendidikan Kritis seperti yang dikatakan tadi merupakan sebuah konsep pendidikan yang dicetuskan oleh Paulo Freire, yang cukup menentang pendidikan konvensional. Pendidikan Kritis ini juga mengedepankan masalah sosial. Tidak hanya memberikan materi kepada peserta didik. Berpijak dari pendidikan, di Indonesia belum ada pemimpin yang benar-benar banyak membahas dan memperhatikan masalah pendidikan. Atau singkatnya Pembangunan di Indonesia lebih mengedepankan masalah Politik, Ekonomi dan sebagainya. Panglima pembangunan yang digunakan adalah dalam hal politik maupun ekonomi. Padahal apabila dengan berlandaskan Pendidikan, mungkin Indonesia akan menjadi negara yang  lebih baik daripada masa sekarang. Lalu bagaimana dengan Pendidikan Murah untuk Rakyat? Banyak kita tahu bahwa pendidikan yang mahal dan berkualitas lebih banyak di'konsumsi' oleh mereka yang kaya. Sedangkan bagi mereka yang miskin lebih baik memperoleh pendidikan yang murah namun tidak berkualitas. Dan mungkin inilah yang menjadi pe-er untuk kita sebagai generasi penerus, menjadikan Pendidikan sebagai Panglima dalam pembangunan Indonesia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar