Kamis, 10 Oktober 2013


RASIONALISME RENE DESCARTES
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu        : Dr. Usman, SS, M.Ag




Oleh   :
Nella Hidayah
                                                                  11410224/F



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Rasionalisme merupakan sebuah aliran yang mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu, orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Aliran ini dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650) yang juga disebut sebagai Bapak Filsafat Modern.
Perhatian filsafat sering dicurahkan pada hal-hal yang bersifat abstrak, sedangkan hal-hal yang konkret dan tampak pada umumnya diabaikan. Berbeda dengan filsafat modern, salah satu ciri yang dimiliki yaitu perhatian yang antusias terhadap hal-hal yang bersifat konkret, seperti alam semesta, manusia, hidup bermasyarakat, dan sejarah. Dengan perkataan lain, segala segi dari kenyataan yang tampak dijadikan sasaran penyelidikan. Descartes yang merupakan Bapak Filsafat Modern, menemukan sebuah metode yang masih bisa dipergunakan dan bermanfaat yaitu metode keraguan sistematis. Ia berketetapan bahwa ia tidak akan mempercayai kebenaran apa pun yang dilihatnya secara terang dan jelas. Seperti dari ciri filsafat modern yang lebih mengutamakan hal-hal yang konkret. Apa saja yang bisa membuatnya ragu-ragu, ia akan merasa ragu-ragu untuk menemukan alasan untuk tidak merasa ragu.
Mengenai filsafat dan metode yang ditawarkan oleh Descartes, kita memiliki pertanyaan penting, misalnya adakah sebuah meja yang memiliki hakikat intrinsik dan tetap eksis ketika saya tidak memandanginya, ataukah meja itu hanyalah produk imajinasi saya, yakni suatu mimpi berkepanjangan tentang meja? Dari pertanyaan tersebut, dapat diambil sebuah pernyataan, karena jika kita tidak merasa yakin akan eksistensi objek-objek yang mandiri kita tidak dapat merasa yakin akan eksistensi tubuh orang lain yang mandiri, apalagi eksistensi pikiran orang lain. Dan inilah yang nanti akan dijawab oleh Rene Descartes, dalam pembahasan makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Siapakah Rene Descartes itu?
2.      Apa latar belakang munculnya Rasionalisme?
3.      Bagaimana pemikiran filsafat Rene Descartes?
4.      Bagamina langkah metode berfikir Rene Descartes?
5.      Apa ciri dari filsafat Rene Descartes?
6.      Bagaimana relevansi filsafat Rene Descartes dalam dunia Pendidikan?
7.      Apa saja karya yang dihasilkan Rene Descartes?
8.      Bagaimana pengaruh dan kritik terhadap filsafat Rene Descartes?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui tokoh filsafat modern yaitu Rene Descartes
2.      Mengetahui pemikiran yang dihasilkan Rene Descartes yaitu rasionalisme
3.      Mengetahui latar belakang timbulnya pemikiran Rasionalisme
4.      Mengetahui langkah metode pemikiran Rene Descartes
5.      Mengetahui ciri dari filsafat Rene Descartes
6.      Mengetahui relevansi filsafat Descartes dalam dunia Pendidikan
7.      Mengetahui karya-karya yang dihasilkan Rene Decartes
8.      Mengetahui pengaruh dan kritik filsafat Rene Descartes










BAB II
PEMBAHASAN

A.           Biografi Rene Descartes
Rene Descartes (nama Latinnya: Renatus Cartesius, 1596-1650) adalah putra keempat Joachim Descartes, seorang anggota parlemen kota Britari, propinsi Renatus di Prancis. Ayahnya  sebagai penasihat parlemen Inggris, hakim dan pengacara kaya. Sudah tentu ayahnya menyediakan lingkungan pendidikan yang baik, namun hanya menyisakan sedikit waktu untuk keluarga. Ketika ia berusia satu tahun, ibunya meninggal. Kemudian ayahnya kawin lagi. Descartes dan kedua saudaranya Pierre dan Jeanne dipelihara neneknya dan sejak itu ia tidak pernah melihat ayahnya lagi.[1]
Kakeknya, Piere Descartes adalah seorang dokter. Neneknya juga berlatar belakang kedokteran. Descartes dilahirkan tanggal 31 Maret 1596 di La Haye (sekarang disebut La Haye Descartes), propinsi Teuraine, Descartes kecil yang mendapat nama baptis Rene, tumbuh sebagai anak yang menampakkan bakatnya dalam bidang filsafat, sehingga ayahnya memanggil anaknya dengan Si Filsuf Cilik.[2]
Pendidikan pertamanya diperoleh dari sekolah Yesuit di La Fleche dari tahun 1604-1612. Di sinilah ia memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Prancis, musik dan akting, logika Aristoteles dan etika Nichomacus, fisika, matematika, astronomi dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun oleh  satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distincvely). Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu pasti, karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara mengenal secara dinamis.[3] Konon selama belajar di perguruan ini Descartes sudah merasakan kebingungan dan ketidakpuasan tentang apa-apa yang diterima dari para gurunya serta apa yang diperolehnya dari buku teks. Ketidakpuasan ini terutama dalam bidang filsafat yang penuh dengan kesimpangsiuran dan pertentangan-pertentangan antara berbagai aliran dan pemikiran.
Kemudian pada tahun 1612, Rene Descartes pergi ke Paris, di sana ia mendapatkan kehidupan sosial yang menjemukan sehingga ia mengucilkan diri ke Faobourg Saint German untuk mengerjakan ilmu ukur. Selama dua tahun ia mengalami suasana damai dan tenteram di Negeri Kincir Angin ini, sehingga ia dapat mengerjakan renungan falsafatnya. Tahun 1614 ia meninggalkan La Fleche. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada masa itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja.
Tergambar jelas dari tulisan-tulisannya bahwa Descartes adalah seseorang yang teguh kepercayaannya pada Tuhan. Dia menganggap dirinya sebagai Katholik yang patuh, akan tetapi  Katolik tidak menyukai pandangan-pandangannya, dan hasil karyanya digolongkan ke dalam "index" buku-buku yang terlarang dibaca. Bahkan di kalangan Protestan Negeri Belanda (waktu itu mungkin negeri yang paling toleran di Eropa), Descartes dituduh seorang atheist dan menghadapi kesulitan dengan penguasa. [4]
 Tahun 1619 Descartes bergabung dengan tentara Batavia. Dan selama musim dingin antara tahun 1619-1620, di kota ini ia mempunyai pengalaman, yang kemudian dituangkan dalam buku pertamanya, Descours de la Methode, salah satu pengalamannya yang unik adalah tentang mimpi yang dialami sebanyak tiga kali dalam satu malam, yang dilukiskan oleh sebagian penulis bagaikan ilham dari Tuhan. 
     Pada tahun 1621, Descartes berhenti dari medan perang dan setelah berkelana ke Italia, ia lalu menetap di Paris (1925). Tiga tahun kemudian, ia kembali masuk tentara, tetapi tidak lama ia keluar lagi dan akhirnya ia memutuskan untuk hidup di Negeri Belanda (1628) dan di sana mendapatkan seorang putri dari kekasihnya, seorang pembantu rumah tangga (1635). Sayang, putrinya meninggal saat berusia lima tahun. [5] Kemudian, disinilah ia menetap selama 20 tahun (1629-1649) dalam kebebasan iklim berfikir. Di negeri inilah ia leluasa menyusun karya-karyanya di bidang ilmu dan filsafat. Pada tahun 1649 ia pergi ke Swedia atas undangan Ratu Christina. Namun, di negeri yang disebutnya “negeri beruang, es, dan batu padas” ini, ia terkena radang paru-paru. Akhirnya, pada ada tanggal 11 Februari 1650 Descartes meninggal di Stockholm diusia 54 tahun. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Prancis pada 1667, dan tengkoraknya disimpan di Museum d’Historie Naturelle, Paris.
Descartes yang juga dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Kata “Bapak” ini yang diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan aqliyah. Dialah orang pertama di akhir abad pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat harus akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci maupun bukan yang lainnya. Oleh karena itu, filsafat Descartes merupakan filsafat yang pertama kali muncul di zaman modern. Corak utama dalam filsafat modern Descartes adalah dianutnya kembali Rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno. Gagasan tersebut disertai oleh argumen yang kuat, diajukan oleh Descartes. Sehingga pemikirannya sering juga disebut bercorak Rennaissence. Apa yang lahir kembali itu? Tentunya, Rasionalisme Yunani.[6]
Selain mencurahkan perhatiannya dalam bidang filsafat, Descartes juga dikenal sebagai seorang Polymath, yaitu seorang yang mempunyai perhatian luas dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam ilmu pasti. Sumbangannya yang besar dalam dunia ilmu adalah keberhasilannya menemukan ilmu ukur coordinator (coordinat geometri).[7]

B.       Latar belakang Pemikiran Rene Descartes
Filsafat Descartes berawal dari satu pertanyaan: Apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk melakukan refleksi filosofis? Untuk menjawab pertanyaan ini Descartes melakukan apa yang kemudian dinamakan sebagai sikap keragu-raguan radikal. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan, dan tidak ingin menerima apapun sebagai sesuatu yang benar, jika kita tidak memahaminya secara jelas dan terpisah. Hanya yang bisa dipahami dengan jelas dan terpisah itulah yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran.[8]
Descartes merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi. Ia banyak menguasai filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar filasafat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya. Ia berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Dia berhasrat untuk menemukan “sebuah ilmu yang sama sekali baru pada masyarakat yang akan memecahkan semua pertanyaan tentang kuantitas secara umum, apakah bersifat kontinum atau terputus.”
Oleh karena itu, latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik)[9], yang pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.[10]
Hal ini mengingat bahwa terjadinya kesimpangsiuran dan ketidakpastian dalam pemikiran-pemikiran filsafat disebabkan oleh karena tidak adanya suatu metode yang mapan, sebagai pangkal tolak yang sama bagi berdirinya suatu filsafat yang kokoh dan pasti. Ia sendiri berpikir sudah mendapatkan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Ia bermaksud bahwa kesangsian atau keragu-raguan ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang saya miliki, termasuk  juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini saya anggap pasti (misalnya bahwa ada suatu dunia material; bahwa saya mempunyai tubuh; bahwa Allah ada). Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan dasar bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dalam pada itu, segera nampak kepastian dan kebenaran yang cemerlang tentang adanya: sebab yang berpikir itu tentu ada. Dari metodos keragu-raguan ini timbul kepastian tentang adanya sendiri. Ini dirumuskan oleh Descartes: Cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada [11], (Saya sedang menyangsikan, ada)

C.      Sistem dan Pemikiran Rene Descartes
Dalam membangun filsafatnya, Descartes membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai patokan dalam menentukan kebenaran dan keluar dari keraguan yang ada. Adapun persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Descartes untuk membangun filsafat baru antara lain:
a.       Apakah kita bisa menggapai suatu pengetahuan yang benar?
b.      Metode apa yang digunakan mencapai pengetahuan pertama?
c.       Bagaimana meraih pengetahuan-pengetahuan selanjutnya?
d.      Apa  tolok ukur kebenaran pengetahuan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Descartes menawarkan metode-metode untuk menjawabnya. Yang mana metode-metode tersebut harus dipegang untuk sampai pada pengetahuan yang benar.
1.      Seorang filosof harus hanya menerima suatu pengetahuan yang terang dan jelas.
2.      Mengurai suatu masalah menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan apa yang ingin kita cari. Atau jika masalah itu masih berupa pernyataan: maka pernyataan tersebut harus diurai menjadi pernyataan-pernyataan yang sederhana. Inilah yang disebut sebagai pola analisis.
3.      Jika kita menemukan suatu gagasan sederhana yang kita anggap Clear and Distinct, kita harus merangkainya untuk menemukan kemungkinan luas dari gagasan tersebut. Metode ini disebut dengan pola kerja sintesa atau perangkaian.
4.      Pada metode yang keempat dilakukan kembali terhadap pengetahuan yang telah diperoleh agar dapat dibuktikan secara pasti bahwa pengetahuan tersebut adalah pengetahuan yang benar-benar Clear and Distinct yang benar-benar tak memuat satu keraguan pun. Metode ini disebut dengan verifikasi.
Jadi dengan keempat metode tersebut Descartes mengungkap kebenaran dan membangun filsafatnya untuk keluar dari keraguan bersyarat yang diperoleh dari pengalaman inderawinya.
Oleh karena itu, dia berpendapat,  agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui maka memerlukan suatu metode yang baik, Rene Descartes yang mendirikan aliran rasionalisme berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal/rasio. Hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan akal dapat diperoleh kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.[12]  Dengan berfikir, manusia bisa menjelaskan semua fenomena yang terjadi di sekitarnya serta bisa menunjukkan eksistensi dan menguji setiap pengetahuan yang ia terima selama ini sehingga kemudian ia bisa mendapatkan sebuah pengalaman baru yang ia yakini kebenarannya.
Sedangkan hakikat pengetahuan adalah a priori, yaitu setiap manusia memiliki landasan pengetahuan dasar tanpa harus mengalami secara langsung atau pengetahuan sebelum pengalaman. Pengetahuan yang dimiliki dan diberikan sejak lahir harus diragukan kebenarannya. Dengan meragukan pengetahuan tersebut manusia bisa menguji kembali pengetahuan itu satu persatu sehingga didapatkan pengetahuan yang benar dan tidak bisa diragukan kembali.
Cogito ergo sum yang berasal dari kata Latin ini berarti, saya berpikir di sini ialah menyadari. Jika saya sangsikan, saya menyadari bahwa saya sangsikan. Kesangsian secara langsung menyatakan adanya saya. Dalam filsafat modern kata Cogito sering kali digunakan dalam arti kesadaran. Cogito ergo sum itulah menurut  Descartes suatu kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku. Mengapa kebenaran ini benar-benar bersifat pasti?  Karena saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah saja yang harus diterima sebagai benar. Itulah norma untuk menentukan kebenaran.
Cogito ergo sum inilah yang dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang disebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium). Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat dan hakikatnya terdiri dari pikiran, dan untuk berada tidak memerlukan suatu tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi. Prinsip bahwa kebenaran yang pasti adalah yang jelas dan terpilah-pilah, menurut B.Williams, merupakan problem sentral dan sekaligus inti filsafat Descartes.
Betapa pun radikalnya keragu-raguan Descartes ini, namun akhirnya ia mengakui bahwa di sana ada satu hal yang tidak bisa diragukan, biar setan licik atau jin botak yang berminat menipunya. Yang dimaksudkannya ialah, bahwa, aku yang  sedang ragu-ragu menandakan bahwa aku sedang berpikir dan karena aku berpikir, maka aku ada (cogito ergo sum).” Mengingat bahwa aku yang berpikir ini adalah sesuatu, dan mengingat bahwa kebenaran cogito ergo sum begitu keras dan meyakinkan, sehingga anggapan kaum skeptis yang paling hebat pun tidak akan mampu menumbangkannya, maka sampailah aku pada keyakinan bahwa aku dapat menerimanya sebagai prinsip pertama dari filsafat yang kucari.[13]
Masih ada satu yang tidak dapat kuragukan, demikian katanya, bahkan tidak ada satu setan dapat mengganggu aku (Si Jenius atau Setan Jahat), tak seorang skeptis pun mampu meragukannya, yaitu saya sedang ragu. Jelas sekali, saya sedang ragu. Tidak dapat diragukan bahwa saya sedang ragu. Begitu distinct saya sedang ragu boleh saja badan saya ini saya ragukan adanya, hanya bayangan, misalnya, atau seperti dalam mimpi, tetapi mengenai “saya sedang ragu” benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Untuk menjamin agar apa yang ditetapkan oleh akal itu, atau rasio, benar-benar tidak salah, maka ia lari kepada Tuhan. Lebih dari itu ia mengemukakan ide-ide bawaan.
Karena kesaksian apapun dari luar tidak dapat dipercaya maka menurut Descartes, saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya dengan menggunakan norma tadi, cogito ergo sum. Dengan demikian, usaha Descartes bisa dibedakan dalam dua langkah, yakni arah “ke dalam” atau pada individu yang bersangkutan, dan arah “ke luar”, atau pada alam dunia.[14]
Langkah pertama arah “ke dalam” Descartes berpendapat, karena segala sesuatu dari luar tidak bisa dipercaya, manusia perlu mencari kebenaran dalam dirinya sendiri, sambil menggunakan kriteria jelas dan terpisah (clear and distinct). Sebagai hasilnya, Descartes menemukan bahwa dalam diri manusia ada tiga hal yang disebutnya “ide-ide bawaan  (Ideas innatae)” .[15]  Ketiga pandangan itu adalah sebagai berikut.
a.       Ide Pemikiran (cogitatio), sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir/berkesadaran,maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b.      Ide Allah (Deus), dalam berpikir­- dan juga dalam bekerja- kita menghendaki kesempurnaan. Ide kesempurnaan ini tentu saja tidak berasal dariku, sebab aku adalah makhluk tidak sempurna dan terbatas. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang menjadi sebab bagi adanya ide kesempurnaan dan sebab tersebut adalah Allah.
c.       Ide Keluasan (Extentio); segala sesuatu di sekitarku bisa kumengerti dalam satuan geometris (panjang, lebar, tinggi, luas, besar). Pemahaman ini mengandaikan bahwa aku memiliki ide keluasan.
Langkah kedua, arah “ke luar”. Dari adanya kesadaran diri (cogito), Descartes berusaha memahami realitas alam-dunia. Seperti halnya para pemikir Yunani dan Skolastik, Descartes juga sampai pada kesimpulan bahwa apa yang ada merupakan suatu substansi, yakni “ada” yang berdiri sendiri. Menurut  Descartes, menyimpulkan bahwa selain dari Allah ada dua substansi, pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran. Kedua, materi yang hakikatnya adalah keluasan. Namun, karena Descartes meragukan keberadaan segala sesuatu, maka ia kesulitan untuk, untuk menerima adanya suatu realitas lain di luar kesadaran, yakni realitas alam-dunia material yang juga mempunyai kejelasan dan keterpisahan sendir. Saat menghadapi hal ini, Descartes menemukan jalan keluarnya pada Allah sebagai penyebab pandangan kesempurnaan. Descartes mengatakan Allah sebagai wujud kesempurnaan tidak mungkin menipu. Dengan jawaban ini, Descartes menjadikan Allah sebagai penjamin kepastian  pengetahuan kita mengenai realitas material-empiris atau alam dunia.    
Selanjutnya, ajaran tentang dua substansi (jiwa-pemikiran dan materi -keluasan) dierapkan Descartes pada ajarannya tentang manusia. Manusia juga terdiri dari dua substansi tersebut: jiwa sebagai pemikiran (res cogitans) dan tubuh sebagai keluasan (res extensa). Jiwa - pemikiran tidak memiliki keluasan spasial (panjang, lebar, luas, dan sebagainya), sedangkan Tubuh  - Keluasan tidak memiliki kemampuan berpikir. Dalam hal ini, Descartes dapat dikatakan menganut ajaran dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, ia menghadapi kesulitan dalam mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh.
Pembagian realitas menjadi dua substansi memungkinkan Descartes untuk membedakan dan mematerialisasikan alam. Dalam kaitannya dengan manusia sebagai makhluk yang berpikir, alam adalah realitas yang bisa diperkirakan, diukur secara sistematis dan dikuasai. Alam adalah objek yang tidak berjiwa dan bersifat material, alam ada untuk memenuhi kebutuhan manusia. Binatang, misalnya adalah “mesin otomatis” yang tidak mempunyai jiwa ataupun perasaan rasa dan bisa dipakai untuk segala kepentingan manusia. Kemajuan pengetahuan kita tentang alam adalah kemajuan penaklukan atas ala mini demi “kesejahteraan bagi seluruh umat manusia”. Bagi Descartes, tugas filsafat adalah:
”Mendapatkan pandangan yang menjadikan hidup ini bisa menghasilkan buah bukan mengusahakan pengetahuan yang bersifat teoritis (Skolastik), filsafat harus mengusahakan pengetahuan praktis yang memungkinkan kita mengenali daya dan kekuatan api, air, udara, bintang, dan segala sesuatu yang di sekitar kita – seperti halnya pekerjaan yang dijalani oleh para pengrajin. Dengan demikian, filsafat haruslah mampu memanfaatkan daya dan kekuatan dari semua unsur tersebut untuk segala macam keperluan praktis manusia sehingga menjadikan kita sebagai tuan dan pemilik alam ini”.[16]
Kembali kepada keraguan Descartes, seorang  filsuf Islam, al-Ghazali, yang pernah mengalami keragu-raguan (al-shakk) jauh sebelum munculnya Descartes. Bila perjalanan pemikiran filsafat Descartes berujung pada kelahiran rasionalisme yang cenderung mengabaikan Tuhan dan agama, maka perjalanan pemikiran filsafati al-Ghazali sama sekali berbeda dengan Descartes. Al- Ghazali sampai pada keyakinan yang kuat akan adanya Tuhan dengan melalui jalan tasawuf yang berpuncak pada ma’rifat, yakni pengetahuan intuitif. [17]

D.      Langkah metode berpikir Rene Descartes
Pada dasarnya, visi dari filsafat Descartes banyak dipengaruhi oleh ilmu alam dan matematika yang berasas pada kepastian dan kejelasan perbedaan antara yang benar dan salah. Sehingga dia menerima suatu kebenaran sebagai suatu hal yang pasti dan jelas atau disebut Descartes sebagai kebenaran yang Clear and Distinct.
Dalam usahanya untuk mencapai kebenaran dasar tersebut Descartes menggunakan metode “Deduksi”, yaitu dia mendedukasikan prinsip-prinsip kebenarannya yang diperolehnya kepada prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya yang berasal dari definisi dasar yang jelas.[18]
Banyak kejadian yang ada di luar dugaan kita tentang hal-hal yang mistis, tak dapat ditangkap dengan indera. Misalnya halusinasi, ilusi, roh halus, mimpi maupun jaga. Mengenai halusinasi dan ilusi dapat membawa kita pada pertanyaan: yang mana sesungguhnya yang benar-benar ada, yang sungguh asli? Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi, benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Dalam mimpi kita melihat benda-benda itu: adakah beda yang tegas antara mimpi dan jaga? Begitulah jalan metode cogito.
Metode cogito atau cogito Descartes merupakan metode yang dia tuangkan dari dua bukunya yang terpenting yaitu Discours de la method (1637) dan Meditation (1642) atau juga disebut dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt).[19]
Langkah pertama ini, Descartes dapat meragukan benda yang dapat diinderakan. Apakah sekarang yang dapat dipercaya, yang sungguh-sungguh ada?
Menurut Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi, ilusi dan roh halus), juga dalam jaga, ada sesuatu yang selalu muncul. Yang selalau muncul itu adalah gerak, jumlah, dan besaran (volume). Ketiga inilah yang lebih meyakinkan adanya. Descartes kemudian mengujinya, yang tiga macam ini merupakan matematika, kata Descartes matematika dapat salah. Saya sering menjumlah (angka), salah mengukur (besaran), juga demikian pada gerak. Jadi ilmu pastipun masih dapat saya ragukan. Ilmu pasti lebih pasti daripada benda, tetapi saya masih dapat meragukannya.
Ilmu ukur dan ilmu hitung memberi kepastian jika dibandingkan dengan ilmu alam dan astronomi. Bahkan ternyata hitungan dan ukuran memberi kepastian juga dalam impian. Tetapi kendati demikian, keraguan bisa terjadi dalam kedua ilmu ini karena bisa saja Tuhan  membuat saya keliru ketika saya menghitung dan mengukur. Dan andaikan bukan Tuhan yang membuat saya keliru ketika menghitung dan mengukur, dan andaikan bukan Tuhan yang membuat aku keliru, maka bisa saja di sana ada setan yang licik atau jin botak yang berusaha untuk menipu dan menyesatkanku. Kalau ini benar, maka mungkin sekali bahwa segala sesuatu yang aku lihat hanyalah bayang-bayang (ilusi) di mana aku terperangkap di dalamnya. Demikian kira-kira ungkapan Descartes tersebut bila kita terjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti.[20]
Jadi, benda dan ilmu pasti diragukan. Sampailah dia sekarang dalam langkah metode ketiga cogito.
          
Benda inderawi tidak ada-gerak, jumlah besaran (ilmu pasti) tidak ada-saya ragu, ada-saya ragu karena saya berfikir-jadi, saya berfikir ada.

Tahapan metode Descartes itu dapat diringkaskan sebagai berikut:

           

Descartes memulai filsafat dari metode. Metode keraguan ini bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descartes hanya ditunjukkan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sesuatu kepastian di balik sesuatu.
Kemudian, bagaimana memperoleh hasil yang sahih (adequate) dari metode yang hendak dicanangkan oleh Descartes, terdapat empat hal yang harus diperhatikan:
1.      Tidak menerima sesuatu apapun sebagai kebenaran kecuali bila saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas (clearly and distinctly), sehingga tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
2.      Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
3.      Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian  secara bertahap sampai pada yang paling dan kompleks.
4.      Dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta petimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam penjelajahan itu. 
Atas dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran filosofisnya.
E.       Ciri-ciri Filsafat Descartes
Inti dari metode Descartes adalah keraguan yang mendasar. Dia meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Sehingga dalam berhubungan dengan realita, Descartes mencoba untuk meragukan segala apa yang diterima oleh inderanya dan dia berusaha untuk menguak realitas dengan menggunakan akalnya. Karena menurutnya hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang dapat disebut sebagai pengetahuan yang ilmiah. Dan kebenaran yang diperoleh melalui indera mempunyai tingkat kesalahan yang lebih tinggi. Meskipun demikian dia tidak mengingkari pengetahuan yang diperoleh melalui pengalamaan, hanya saja pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. [21]
F.     Relevansi pemikiran Descartes dalam Dunia Pendidikan
Setelah menguraikan sistem pemikiran Rene Desartes, setidaknya dapat diambil point pokok yang dapat diambil relevansinya bagi ilmu pendidikan, yakni:
Seperti yang telah diketahui bahwa, filsafat rasionalisme Descartes menekankan bahwa sejatinya sumber pengetahuan adalah rasio/akal. Bukan pengalaman, pengalaman hanya dapat dipakai untuk menegaskan pengetahuan yang telah didapatkan dari rasio. Menurutnya, manusia harus berangkat dari pemikiran yang rasional demi mencapai kebenaran yang pasti, oleh karena itu rasio/akal harus berperan semaksimal mungkin.
Sehingga disinilah sejatinya pendidikan dan pembelajaran harus difokuskan pada nalar (reason) dan rasionalitas, yakni guru harus berusaha membuat murid percaya demi nalar yang baik (reason) dan guru harus melakukannya dengan cara menghargai penilaian bebas anak didik. Di sisi lain, sense of reasonableness anak didik harus digali dengan pengajaran yang sungguh-sungguh, dan tugas guru adalah mendorong serta memperkaya pemahaman anak didik tentang bagaimana yang membentuk nalar yang baik.
Misalnya, ketika guru hendak mengajarkan mengenai konsep keEsaan Tuhan, guru dapat mengemukakan alasan –alasan rasional mengenai hal tersebut.
Untuk dapat mendukung tercapainya tujuan tersebut, sangat perlu dipahami landasan pokok konsep pendidikan itu sendiri, diantaranya:
1)      Pendidikan yaitu konsepsi pendidikan yang bertujuan mengembangkan rasionalitas.
2)      Pengajaran yaitu suatu aktifitas yang dibatasi oleh cara guru mengajar dan menyerahkan substansi bahan pelajaran pada keputusan mandiri anak didik, menghormati sense of reason dan sense of reasonableness anak didik dan memperlakukan anak didik dengan hormat.

G.    Karya-karya Descartes
Karya-karya Descartes cukup banyak. Antara lain:
-          Discours de la Methode (1637) yang berarti uraian tentang metode yang isinya melukiskan perkembangan intelektualnya. Di dalam karyanya inilah ia menyatakan ketidakpuasan atas filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan penyelidikannya. Dalam bidang ilmiah tidak ada sesuatupun yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan juga. Satu-satunya kekecualian adalah ilmu pasti. Demikian menurut Descartes.
-          Dioptrique
-          La Geometrie
-          Les Meteores Meditationes de Prima Philosophia
-          Principia Philosophia
-          Le Monde
-          L’Homme
-          Regulae ad Dirsctionem Ingnii (sesudah meninggal)
-          De la Formation du foetus, dan sebagainya

H.      Pengaruh dan Kritik terhadap Pemikiran Rene Descartes
Kritik adalah suatu bentuk keniscayaan dalam setiap pengembangan ilmu dan teori-teori keilmuan. Tanpa adanya kritik, ilmu akan menjadi dogma yang seolah “haram” disentuh. Sehingga, dengan adanya kritik ilmu dapat memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Beranjak dari asumsi tersebut, filsafat rasionalisme Rene Descartes tidak luput juga dari kritik. [22]
Pengaruh Descartes terlalu sulit untuk ditelusuri seluk beluknya, oleh karena hampir seluruh aliran filsafat sesudahnya mempunyai impact, setidak-tidaknya mempunyai akar kesejarahan dari pemikirannya. Problem-problem kefilsafatanlah yang menjadi dasar atau bahkan dasar pemikiran bagi timbulnya pemikiran-pemikiran baru yang datang kemudian. Problem pemisahan antara pikiran dengan zat, antara jiwa dengan badan, antara ruhani dan jasmani yang dirintis Descartes menurut Harold Titus, terdapat dalam sepanjang sejarah kefilsafatan. [23]
Dalam menggunakan argumen Desartes ini, diperlukan kehati-hatian. Karena itu  “saya berpikir maka saya ada” menyatakan sesuatu yang lebih dari  sekadar kepastian yang kaku. Barangkali kita seolah-olah merasa cukup yakin sebagai orang yang sama hari ini seperti di hari kemarin. Dan ini dalam beberapa hal benar. Tapi, diri sejati sulit dimengerti sama seperti meja sejati, dan tidak, memiliki kepastian absolut dan meyakinkan seperti yang dimiliki pengalaman-pengalaman partikular. Misalnya, ketika saya memandang ke arah meja dan menyaksikan warna cokelat tertentu, yang cukup meyakinkan saat itu juga bukanlah “saya sedang menyaksikan warna cokelat”, melainkan  warna cokelat sedang dilihat”. Ini tentu saja melibatkan (atau seseorang) yang melihat warna cokelat tersebut , dan tidak melibatkan permanen yang kita sebut “saya” . Sepanjang menyangkut kepastian segera, boleh jadi sesuatu yang melihat warna cokelat itu bersifat sementara, dan tidak sama dengan sesuatu yang memiliki pengalaman yang berbeda-beda pada momen berikutnya.
Dengan demikian, pikiran-pikiran dan perasaan partikular, kitalah memiliki kepastian primitif.  Dan ini berlaku bagi mimpi dan halusinasi, dan juga bagi persepsi-persepsi normal: pada saat kita bermimpi atau bertemu hantu, sudah pasti kita merasakan sensasi yang kita anggap kita miliki dan karena beberapa alasan, dinyatakan bahwa tidak ada objek fisik satu pun yang sepadan dengan sensasi ini. Jadi, kepastian pengetahuan kita tentang pengalaman kita sendiri bagaimanapun tidak bersifat terbatas untuk memungkinkan kasus-kasus khusus. Karena itu, disini kita memiliki landasan yang kokoh untuk memulai upaya kita mencari pengalaman.
Masalah yang harus kita pertimbangkan adalah sebagai berikut:
Andai saja kita merasa yakin akan data-indra milik kita sendiri, apakah kita mempunyai alasan untuk menganggapnya sebagai tanda-tanda eksistensi sesuatu yang lain, yang dapat kita sebut dengan objek fisik? Pada saat kita telah menjumlahkan seluruh data-indra yang bisanya kita anggap berkaitan dengan meja tersebut di atas, sudahkah kita menyatakan segala sesuatu yang seharusnya dinyatakan tentang meja, atau masih adakah sesuatu yang lain- sesuatu yang bukan data-indra, sesuatu yang tetap bertahan ketika kita keluar dari ruangan itu? Akal sehat sudah pasti akan menyatakan ada. Apa yang dapat dibeli dan dijual, ditekan dan memiliki secarik kain di atasnya, dan sebagianya, tidak dapat menjadi sekadar suatu koleksi data-indra. Jika kain itu benar-benar menyembunyikan meja, kita tidak akan memperoleh data-indra dari meja, dan karena itu, jika meja hanya sekadar data-indra, ia akan berhenti eksis dan kain itu akan bergantungan di udara kosong, diam, penuh keajaiban, di tempat dulunya meja itu berada. Ini jelas tampak absurd; tapi siapa saja yang berkeinginan menjadi seorang filosof harus belajar untuk tidak takut dengan absurditas-absurditas. [24] 
Kritik lain terhadap filsafat Descartes adalah kecenderungannya yang sangat kuat terhadap subjektivitas, oleh karena terbukti bahwa setiap orang memiliki kecenderungan, karakteristik dan kapasitas berpikir yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, jika pikiran melulu yang dijadikan tolok ukur kebenaran, maka kenisbianlah yang akan menjadi buahnya.
Honer dan Hunt mengkritik rasionalisme dari segi kegagalannya yang menjelaskan perubahan dan pertumbuhan pengetahuan manusia selama ini. Banyak ide yang sudah dianggap pasti, namun suatu ketika, pada saat yang lain, mengalami perubahan. Contohnya, mengenai teori bumi yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat sistem matahari (tata surya) yang pernah diterima secara umum sebagai suatu pernyataan yang pasti, tetapi kemudian pernyataan ini tumbang dengan sendirinya begitu datang teori baru yang lebih sahih berdasarkan penelitian empiris.
Kritikan-kritikan yang dialamatkan kepada rasionalisme umumnya dan kepada Descartes khususnya cukup banyak, khususnya datang dari kelompok empirisme. Namun demikian, akan kelihatan nanti bahwa baik rasionalisme maupun empirisme, keduanya tidak luput dari kritikan dan serangan menggebu yang dilancarkan Immanuel Kant. Semuanya ini menununjukkan bahwa rasionalisme murni berpijak atas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang goyah sehingga cogito ergo sum tidak lagi dianggap titik tolak yang memadai. 
Selanjutnya, menurut saya untuk mengkritiki pemikiran Descartes disini, perlu dibenahi dari sikap kritisnya. Sumber pengetahun menurut Descartes adalah akal, dari akal inilah kita juga mempunyai kemampuan menjangkau pengetahuan tentang segala hal, termasuk dalam pengetahuan (substansi) Tuhan. Sebenarnya dalam Islam sendiri telah dikenal dengan tradisi keilmuan Islam. Muhammad Abed al-Jabiri, seorang pemikir muslim kontemporer asal Maroko yang membuat klasifikasi ilmu dalam Islam secara epistemologis. Menurutnya, nalar pemikiran Islam dapat dikategorikan ke dalam tiga epistemologis, yaitu epistemologi bayani, ‘irfani, dan burhani. Dalam pandangan Amin Abdullah ketiga nalar keilmuan tersebut tidak dapat berdiri sendiri, namun harus saling berhubungan dengan satu nalar dengan yang lain.[25]
Kembali kepada pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan tentang alam materi, walaupun pengetahuan itu diberikan secara ilmiah, belumlah tentu dan pasti kebenarannya. Kebenarannya masih bisa diragu-ragukan. Bahkan al-Ghazali berkata bahwa, baginya akal tidak membawa kepada keyakinan. Al-Ghazali lebih percaya kepada qalb  yang dapat sampai ke ma’rifat dalam faham tasawwuf. [26]




BAB III
                 PENUTUP

Inti dari pemikiran Rene Descartes adalah berangkat dari sebuah keragu-raguan akan segala sesuatu. Sehingga Descartes mampu mengubah dunia melalui pemikirannya yang luar biasa. Karena penemuannya yang fenomenal, ia dijuluki sebagai “Bapak Filsafat Modern”.
Keragu-raguan Descartes ini hanya sebagai metodos, bukanlah ia ragu-ragu sesungguhnya seperti skepsis, melainkan untuk mencapai kepastian. Dan tercapailah kepastian itu menurut dia. Kepastian yang dapat pada kesadaran inilah yang dipakai menjadi pangkal pikiran dan filsafatnya. Disisi lain, akal atau rasio inilah yang menjadikannya menemukan pangkal untuk bertindak seterusnya dan mengadakan sistem filsafat. Menurutnya, hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Dan rasio pulalah yang dapat memberi pimpinan dalam segala jalan pikiran. Dari pemikiran ini, tentunya juga tidak lepas dari kritik para filosof lain, yang menentang argumennya.









DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,  Asmoro, Filsafat Umum, PT. Raja GrafindoPersada, Jakarta, 1995
Nasution, Harun, Falsafat Agama, PT. Bulan Bintang, Jakarta cet. ke-5, 1985
Russel, Bertrand, The Problems of Philosophy  (Persoalan-persoalan Seputar Filsafat), terj. Ahmad Asnawi, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2002
Petrus L. Tjahjadi, Simon, Petualangan Intelektual, Kanisius, Yogyakarta, 2004
Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Pengantar Studi Islam, POKJA UIN, Yogyakarta 2005
            Poedjawijatno, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, PT. Pembangunan, Jakarta, 1980
            Praja, Juhaya S, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Kencana, Jakarta, 2003

            http://cahayakhaeroni.blogspot.com/2011/10/epistemologi-rasionalisme-rene.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013
            http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/2010/11/rasionalismerenedescartes.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013







[2]Norman Kemp Smith, New studies in The Philosophy of Descartes (New York, Russel & Rossek Inc., 1996), hlm. 3 (dikutip dalam buku Juhaya S, Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 92
[3] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum  (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 1995),  hlm. 109
[5] Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual  (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm.206
[8] Simon Petrus…hlm.207
[9]Skolastik adalah sistem logika, filsafat, dan teologi para sarjana Abad Pertengahan atau orang terpelajar abad ke-10 hingga abad ke-15, berlandaskan logika Aristoteles dan tulisan para ahli agama Kristen zaman permulaan agama.

[10] Asmoro Achmadi…hlm. 109
[11] Poedjawijatno, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: PT. Pembangunan, 1980), hlm. 93
[12] Asmoro Achmadi… hlm. 109
[13] Juhaya S. Praja…hlm.97
[14] Simon Petrus…hlm. 208
[15] Paham “idea bawaan” mempunyai arti ganda. Di satu pihak, paham ini menunjuk kepada sifat psikogenetik: Ide-ide ini berasal dari Allah dan ditanamkan oleh Nya, ke dalam jiwa manusia. Di pihak lain, paham ini menunjuk pada kualitas yang dimuat dalam pengertian itu: ide-ide ini bisa ditemukan dalam kesadaran manusia itu sendiri, terlepas sama sekali dari pengaruh dunia empiris. (dikuti dari buku Simon Petrus… hlm 208)
[16] Descartes, Discours de la Methode pour bien conduire la Raison & chercher la Verite dans les sciences (1637), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh K. Fischer, VI, Stuttgart, 1973, hlm. 31 (dikutip dalam buku Simon Petrus…hlm. 210)
[17] Juhaya S. Praja…hlm. 97
[20] Juhaya S.Praja…hlm.97
                [22]http://cahayakhaeroni.blogspot.com/2011/10/epistemologi-rasionalisme-rene.html, diakses pada 3 Maret 2013

[23] Juhaya S. Praja…hlm.100
[24]Bertrand Russel, The Problems of Philosophy  (Persoalan-persoalan Seputar Filsafat), terjemahan Ahmad Asnawi (Yogyakarta:Ikon Teralitera, 2002), hal. 17
[25]Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta:POKJA UIN, 2005), hlm. 96
[26] Harun Nasution, Falsafat Agama (Jakarta:PT. Bulan Bintang, cet. ke-5, 1985), hlm.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar