RASIONALISME
RENE DESCARTES
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Dr.
Usman, SS, M.Ag
Oleh :
Nella Hidayah
11410224/F
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Rasionalisme
merupakan sebuah aliran yang mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide
dan dengan itu, orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan
realitas di luar rasio. Aliran ini dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650)
yang juga disebut sebagai Bapak Filsafat Modern.
Perhatian
filsafat sering dicurahkan pada hal-hal yang bersifat abstrak, sedangkan
hal-hal yang konkret dan tampak pada umumnya diabaikan. Berbeda dengan filsafat
modern, salah satu ciri yang dimiliki yaitu perhatian yang antusias terhadap hal-hal
yang bersifat konkret, seperti alam semesta, manusia, hidup bermasyarakat, dan
sejarah. Dengan perkataan lain, segala segi dari kenyataan yang tampak
dijadikan sasaran penyelidikan. Descartes yang merupakan Bapak Filsafat Modern,
menemukan sebuah metode yang masih bisa dipergunakan dan bermanfaat yaitu
metode keraguan sistematis. Ia berketetapan bahwa ia tidak akan mempercayai
kebenaran apa pun yang dilihatnya secara terang dan jelas. Seperti dari ciri
filsafat modern yang lebih mengutamakan hal-hal yang konkret. Apa saja yang
bisa membuatnya ragu-ragu, ia akan merasa ragu-ragu untuk menemukan alasan
untuk tidak merasa ragu.
Mengenai
filsafat dan metode yang ditawarkan oleh Descartes, kita memiliki pertanyaan penting,
misalnya adakah sebuah meja yang memiliki hakikat intrinsik dan tetap eksis
ketika saya tidak memandanginya, ataukah meja itu hanyalah produk imajinasi
saya, yakni suatu mimpi berkepanjangan tentang meja? Dari pertanyaan tersebut,
dapat diambil sebuah pernyataan, karena jika kita tidak merasa yakin akan
eksistensi objek-objek yang mandiri kita tidak dapat merasa yakin akan
eksistensi tubuh orang lain yang mandiri, apalagi eksistensi pikiran orang
lain. Dan inilah yang nanti akan dijawab oleh Rene Descartes, dalam pembahasan
makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
1.
Siapakah
Rene Descartes itu?
2.
Apa
latar belakang munculnya Rasionalisme?
3.
Bagaimana
pemikiran filsafat Rene Descartes?
4.
Bagamina
langkah metode berfikir Rene Descartes?
5.
Apa
ciri dari filsafat Rene Descartes?
6.
Bagaimana
relevansi filsafat Rene Descartes dalam dunia Pendidikan?
7.
Apa
saja karya yang dihasilkan Rene Descartes?
8.
Bagaimana
pengaruh dan kritik terhadap filsafat Rene Descartes?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui
tokoh filsafat modern yaitu Rene Descartes
2.
Mengetahui
pemikiran yang dihasilkan Rene Descartes yaitu rasionalisme
3.
Mengetahui
latar belakang timbulnya pemikiran Rasionalisme
4.
Mengetahui
langkah metode pemikiran Rene Descartes
5.
Mengetahui
ciri dari filsafat Rene Descartes
6.
Mengetahui
relevansi filsafat Descartes dalam dunia Pendidikan
7.
Mengetahui
karya-karya yang dihasilkan Rene Decartes
8.
Mengetahui
pengaruh dan kritik filsafat Rene Descartes
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Rene Descartes
Rene
Descartes (nama Latinnya: Renatus Cartesius, 1596-1650) adalah putra
keempat Joachim Descartes, seorang anggota parlemen kota Britari,
propinsi Renatus di Prancis. Ayahnya
sebagai penasihat parlemen Inggris,
hakim dan pengacara kaya. Sudah tentu ayahnya menyediakan lingkungan pendidikan
yang baik, namun hanya menyisakan sedikit waktu untuk keluarga. Ketika ia
berusia satu tahun, ibunya meninggal. Kemudian ayahnya kawin lagi. Descartes
dan kedua saudaranya Pierre dan Jeanne dipelihara neneknya dan sejak itu ia
tidak pernah melihat ayahnya lagi.[1]
Kakeknya, Piere Descartes adalah seorang dokter. Neneknya juga
berlatar belakang kedokteran. Descartes dilahirkan tanggal 31 Maret 1596 di La
Haye (sekarang disebut La Haye Descartes), propinsi Teuraine,
Descartes kecil yang mendapat nama baptis Rene, tumbuh sebagai anak yang
menampakkan bakatnya dalam bidang filsafat, sehingga ayahnya memanggil anaknya
dengan Si Filsuf Cilik.[2]
Pendidikan pertamanya diperoleh dari sekolah Yesuit di La
Fleche dari tahun 1604-1612. Di sinilah ia memperoleh pengetahuan dasar
tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Prancis, musik dan akting, logika
Aristoteles dan etika Nichomacus, fisika, matematika, astronomi dan ajaran
metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Ia menyatakan, bahwa ilmu pengetahuan
harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri
sendiri menurut satu metode yang umum. Yang harus dipandang sebagai hal yang
benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distincvely).
Ilmu pengetahuan harus mengikuti langkah ilmu pasti, karena ilmu pasti dapat
dijadikan model cara mengenal secara dinamis.[3] Konon
selama belajar di perguruan ini Descartes sudah merasakan kebingungan dan
ketidakpuasan tentang apa-apa yang diterima dari para gurunya serta apa yang
diperolehnya dari buku teks. Ketidakpuasan ini terutama dalam bidang filsafat
yang penuh dengan kesimpangsiuran dan pertentangan-pertentangan antara berbagai
aliran dan pemikiran.
Kemudian
pada tahun 1612, Rene Descartes pergi ke Paris, di sana ia mendapatkan
kehidupan sosial yang menjemukan sehingga ia mengucilkan diri ke Faobourg
Saint German untuk mengerjakan ilmu ukur. Selama dua tahun ia mengalami
suasana damai dan tenteram di Negeri Kincir Angin ini, sehingga ia dapat
mengerjakan renungan falsafatnya. Tahun 1614 ia meninggalkan La Fleche. Ia taat
mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut
Galileo yang pada masa itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja.
Tergambar jelas dari tulisan-tulisannya bahwa Descartes
adalah seseorang yang teguh kepercayaannya pada Tuhan. Dia menganggap dirinya
sebagai Katholik yang patuh, akan tetapi Katolik tidak menyukai
pandangan-pandangannya, dan hasil karyanya digolongkan ke dalam "index"
buku-buku yang terlarang dibaca. Bahkan di kalangan Protestan Negeri Belanda
(waktu itu mungkin negeri yang paling toleran di Eropa), Descartes dituduh
seorang atheist dan menghadapi kesulitan dengan penguasa. [4]
Tahun 1619 Descartes
bergabung dengan tentara Batavia. Dan selama musim dingin antara tahun
1619-1620, di kota ini ia mempunyai pengalaman, yang kemudian dituangkan dalam
buku pertamanya, Descours de la Methode, salah satu pengalamannya
yang unik adalah tentang mimpi yang dialami sebanyak tiga kali dalam satu malam,
yang dilukiskan oleh sebagian penulis bagaikan ilham dari Tuhan.
Pada tahun 1621, Descartes berhenti dari
medan perang dan setelah berkelana ke Italia, ia lalu menetap di Paris (1925).
Tiga tahun kemudian, ia kembali masuk tentara, tetapi tidak lama ia keluar lagi
dan akhirnya ia memutuskan untuk hidup di Negeri Belanda (1628) dan di sana
mendapatkan seorang putri dari kekasihnya, seorang pembantu rumah tangga (1635).
Sayang, putrinya meninggal saat berusia lima tahun. [5]
Kemudian, disinilah ia menetap selama 20 tahun (1629-1649) dalam kebebasan
iklim berfikir. Di negeri inilah ia leluasa menyusun karya-karyanya di bidang
ilmu dan filsafat. Pada tahun 1649 ia pergi ke Swedia atas undangan Ratu
Christina. Namun, di negeri yang disebutnya “negeri beruang, es, dan batu
padas” ini, ia terkena radang paru-paru. Akhirnya, pada ada tanggal 11 Februari
1650 Descartes meninggal di Stockholm diusia 54 tahun. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke
Prancis pada 1667, dan tengkoraknya disimpan di Museum d’Historie
Naturelle, Paris.
Descartes yang juga dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Kata
“Bapak” ini yang diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada
zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri
yang dihasilkan oleh pengetahuan aqliyah. Dialah orang pertama di akhir abad
pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang
menyimpulkan bahwa dasar filsafat harus akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan
ayat suci maupun bukan yang lainnya. Oleh karena itu, filsafat Descartes
merupakan filsafat yang pertama kali muncul di zaman modern. Corak utama dalam
filsafat modern Descartes adalah dianutnya kembali Rasionalisme seperti pada
masa Yunani Kuno. Gagasan tersebut disertai oleh argumen yang kuat, diajukan
oleh Descartes. Sehingga pemikirannya sering juga disebut bercorak Rennaissence.
Apa yang lahir kembali itu? Tentunya, Rasionalisme Yunani.[6]
Selain mencurahkan perhatiannya dalam bidang filsafat,
Descartes juga dikenal sebagai seorang Polymath, yaitu seorang yang
mempunyai perhatian luas dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam ilmu
pasti. Sumbangannya yang besar dalam dunia ilmu adalah keberhasilannya
menemukan ilmu ukur coordinator (coordinat geometri).[7]
B.
Latar belakang Pemikiran Rene Descartes
Filsafat Descartes berawal dari satu
pertanyaan: Apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk melakukan refleksi
filosofis? Untuk menjawab pertanyaan ini Descartes melakukan apa yang kemudian
dinamakan sebagai sikap keragu-raguan radikal. Ia menganggap bahwa segala
sesuatu yang ada hanyalah tipuan, dan tidak ingin menerima apapun sebagai
sesuatu yang benar, jika kita tidak memahaminya secara jelas dan terpisah.
Hanya yang bisa dipahami dengan jelas dan terpisah itulah yang menjadi norma
untuk menentukan kepastian dan kebenaran.[8]
Descartes merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis
yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi. Ia banyak menguasai
filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar
filasafat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya. Ia
berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Dia berhasrat untuk
menemukan “sebuah ilmu yang sama sekali baru pada masyarakat yang akan
memecahkan semua pertanyaan tentang kuantitas secara umum, apakah bersifat
kontinum atau terputus.”
Oleh karena itu, latar belakang munculnya rasionalisme adalah
keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik)[9],
yang pernah diterima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan
yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih
dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.[10]
Hal
ini mengingat bahwa terjadinya kesimpangsiuran dan ketidakpastian dalam
pemikiran-pemikiran filsafat disebabkan oleh karena tidak adanya suatu metode
yang mapan, sebagai pangkal tolak yang sama bagi berdirinya suatu filsafat yang
kokoh dan pasti. Ia sendiri berpikir sudah mendapatkan metode yang dicarinya
itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya atau keragu-raguan. Ia bermaksud
bahwa kesangsian atau keragu-raguan ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang
saya miliki, termasuk juga
kebenaran-kebenaran yang sampai kini saya anggap pasti (misalnya bahwa ada
suatu dunia material; bahwa saya mempunyai tubuh; bahwa Allah ada). Kalau
terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka
kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan dasar bagi seluruh ilmu
pengetahuan. Dalam pada itu, segera nampak kepastian dan kebenaran yang
cemerlang tentang adanya: sebab yang berpikir itu tentu ada. Dari metodos
keragu-raguan ini timbul kepastian tentang adanya sendiri. Ini dirumuskan oleh
Descartes: Cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada [11],
(Saya sedang menyangsikan, ada)
C.
Sistem dan Pemikiran Rene Descartes
Dalam membangun
filsafatnya, Descartes membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai patokan dalam
menentukan kebenaran dan keluar dari keraguan yang ada. Adapun
persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Descartes untuk membangun filsafat
baru antara lain:
a.
Apakah
kita bisa menggapai suatu pengetahuan yang benar?
b.
Metode
apa yang digunakan mencapai pengetahuan pertama?
c.
Bagaimana
meraih pengetahuan-pengetahuan selanjutnya?
d.
Apa tolok ukur kebenaran pengetahuan?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Descartes menawarkan
metode-metode untuk menjawabnya. Yang mana metode-metode tersebut harus
dipegang untuk sampai pada pengetahuan yang benar.
1.
Seorang
filosof harus hanya menerima suatu pengetahuan yang terang dan jelas.
2.
Mengurai
suatu masalah menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan apa yang ingin kita
cari. Atau jika masalah itu masih berupa pernyataan: maka pernyataan tersebut
harus diurai menjadi pernyataan-pernyataan yang sederhana. Inilah yang disebut
sebagai pola analisis.
3.
Jika
kita menemukan suatu gagasan sederhana yang kita anggap Clear and Distinct, kita
harus merangkainya untuk menemukan kemungkinan luas dari gagasan tersebut.
Metode ini disebut dengan pola kerja sintesa atau perangkaian.
4.
Pada
metode yang keempat dilakukan kembali terhadap pengetahuan yang telah diperoleh
agar dapat dibuktikan secara pasti bahwa pengetahuan tersebut adalah
pengetahuan yang benar-benar Clear and Distinct yang benar-benar tak
memuat satu keraguan pun. Metode ini disebut dengan verifikasi.
Jadi dengan keempat metode tersebut Descartes mengungkap kebenaran
dan membangun filsafatnya untuk keluar dari keraguan bersyarat yang diperoleh
dari pengalaman inderawinya.
Oleh karena itu, dia berpendapat,
agar filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui maka memerlukan
suatu metode yang baik, Rene Descartes yang mendirikan aliran rasionalisme
berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal/rasio.
Hanya pengetahuan yang diperoleh lewat akallah yang memenuhi syarat yang
dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Dengan akal dapat diperoleh
kebenaran dengan metode deduktif, seperti yang dicontohkan dalam ilmu pasti.[12] Dengan berfikir, manusia bisa menjelaskan
semua fenomena yang terjadi di sekitarnya serta bisa menunjukkan eksistensi dan
menguji setiap pengetahuan yang ia terima selama ini sehingga kemudian ia bisa
mendapatkan sebuah pengalaman baru yang ia yakini kebenarannya.
Sedangkan hakikat pengetahuan adalah a priori, yaitu setiap
manusia memiliki landasan pengetahuan dasar tanpa harus mengalami secara langsung
atau pengetahuan sebelum pengalaman. Pengetahuan yang dimiliki dan diberikan
sejak lahir harus diragukan kebenarannya. Dengan meragukan pengetahuan tersebut
manusia bisa menguji kembali pengetahuan itu satu persatu sehingga didapatkan
pengetahuan yang benar dan tidak bisa diragukan kembali.
Cogito ergo sum yang berasal
dari kata Latin ini berarti, saya berpikir di sini ialah menyadari. Jika saya
sangsikan, saya menyadari bahwa saya sangsikan. Kesangsian secara langsung
menyatakan adanya saya. Dalam filsafat modern kata Cogito sering kali
digunakan dalam arti kesadaran. Cogito ergo sum itulah menurut Descartes suatu kebenaran yang tidak dapat
disangkal, betapa pun besar usahaku. Mengapa kebenaran ini benar-benar bersifat
pasti? Karena saya mengerti itu dengan
jelas dan terpilah-pilah saja yang harus diterima sebagai benar. Itulah norma
untuk menentukan kebenaran.
Cogito ergo sum inilah
yang dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes yang
disebut sebagai kebenaran filsafat yang pertama (primum philosophium).
Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah suatu substansi yang seluruh tabiat
dan hakikatnya terdiri dari pikiran, dan untuk berada tidak memerlukan suatu
tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi. Prinsip bahwa kebenaran yang pasti
adalah yang jelas dan terpilah-pilah, menurut B.Williams, merupakan
problem sentral dan sekaligus inti filsafat Descartes.
Betapa pun radikalnya keragu-raguan Descartes ini, namun akhirnya
ia mengakui bahwa di sana ada satu hal yang tidak bisa diragukan, biar setan
licik atau jin botak yang berminat menipunya. Yang dimaksudkannya ialah, bahwa,
“aku yang sedang ragu-ragu
menandakan bahwa aku sedang berpikir dan karena aku berpikir, maka aku ada
(cogito ergo sum).” Mengingat bahwa aku yang berpikir ini adalah
sesuatu, dan mengingat bahwa kebenaran cogito ergo sum begitu
keras dan meyakinkan, sehingga anggapan kaum skeptis yang paling hebat pun
tidak akan mampu menumbangkannya, maka sampailah aku pada keyakinan bahwa aku
dapat menerimanya sebagai prinsip pertama dari filsafat yang kucari.[13]
Masih ada satu yang tidak dapat kuragukan, demikian katanya, bahkan
tidak ada satu setan dapat mengganggu aku (Si Jenius atau Setan Jahat),
tak seorang skeptis pun mampu meragukannya, yaitu saya sedang ragu. Jelas sekali,
saya sedang ragu. Tidak dapat diragukan bahwa saya sedang ragu. Begitu distinct
saya sedang ragu boleh saja badan saya ini saya ragukan adanya, hanya bayangan,
misalnya, atau seperti dalam mimpi, tetapi mengenai “saya sedang ragu”
benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Untuk menjamin agar apa yang ditetapkan oleh akal itu, atau rasio,
benar-benar tidak salah, maka ia lari kepada Tuhan. Lebih dari itu ia
mengemukakan ide-ide bawaan.
Karena kesaksian apapun dari luar tidak dapat dipercaya maka
menurut Descartes, saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya
dengan menggunakan norma tadi, cogito ergo sum. Dengan demikian, usaha
Descartes bisa dibedakan dalam dua langkah, yakni arah “ke dalam” atau pada
individu yang bersangkutan, dan arah “ke luar”, atau pada alam dunia.[14]
Langkah pertama arah “ke dalam” Descartes berpendapat,
karena segala sesuatu dari luar tidak bisa dipercaya, manusia perlu mencari
kebenaran dalam dirinya sendiri, sambil menggunakan kriteria jelas dan terpisah
(clear and distinct). Sebagai hasilnya, Descartes menemukan bahwa dalam
diri manusia ada tiga hal yang disebutnya “ide-ide bawaan (Ideas innatae)” .[15] Ketiga pandangan itu adalah sebagai berikut.
a.
Ide Pemikiran
(cogitatio), sebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berpikir/berkesadaran,maka
harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
b.
Ide Allah
(Deus), dalam berpikir- dan juga dalam bekerja- kita menghendaki
kesempurnaan. Ide kesempurnaan ini tentu saja tidak berasal dariku, sebab aku
adalah makhluk tidak sempurna dan terbatas. Oleh karena itu, harus ada sesuatu
yang menjadi sebab bagi adanya ide kesempurnaan dan sebab tersebut adalah
Allah.
c.
Ide Keluasan
(Extentio); segala sesuatu di sekitarku bisa kumengerti dalam satuan
geometris (panjang, lebar, tinggi, luas, besar). Pemahaman ini mengandaikan
bahwa aku memiliki ide keluasan.
Langkah kedua, arah “ke luar”. Dari adanya kesadaran diri (cogito),
Descartes berusaha memahami realitas alam-dunia. Seperti halnya para pemikir
Yunani dan Skolastik, Descartes juga sampai pada kesimpulan bahwa apa yang ada
merupakan suatu substansi, yakni “ada” yang berdiri sendiri. Menurut Descartes, menyimpulkan bahwa selain dari
Allah ada dua substansi, pertama, jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran.
Kedua, materi yang hakikatnya adalah keluasan. Namun, karena Descartes
meragukan keberadaan segala sesuatu, maka ia kesulitan untuk, untuk menerima
adanya suatu realitas lain di luar kesadaran, yakni realitas alam-dunia
material yang juga mempunyai kejelasan dan keterpisahan sendir. Saat menghadapi
hal ini, Descartes menemukan jalan keluarnya pada Allah sebagai penyebab
pandangan kesempurnaan. Descartes mengatakan Allah sebagai wujud kesempurnaan
tidak mungkin menipu. Dengan jawaban ini, Descartes menjadikan Allah sebagai
penjamin kepastian pengetahuan kita
mengenai realitas material-empiris atau alam dunia.
Selanjutnya, ajaran tentang dua substansi (jiwa-pemikiran dan
materi -keluasan) dierapkan Descartes pada ajarannya tentang manusia. Manusia
juga terdiri dari dua substansi tersebut: jiwa sebagai pemikiran (res
cogitans) dan tubuh sebagai keluasan (res extensa). Jiwa - pemikiran
tidak memiliki keluasan spasial (panjang, lebar, luas, dan sebagainya),
sedangkan Tubuh - Keluasan tidak
memiliki kemampuan berpikir. Dalam hal ini, Descartes dapat dikatakan menganut
ajaran dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, ia menghadapi kesulitan dalam
mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh.
Pembagian realitas menjadi dua substansi memungkinkan Descartes
untuk membedakan dan mematerialisasikan alam. Dalam kaitannya dengan manusia
sebagai makhluk yang berpikir, alam adalah realitas yang bisa diperkirakan,
diukur secara sistematis dan dikuasai. Alam adalah objek yang tidak berjiwa dan
bersifat material, alam ada untuk memenuhi kebutuhan manusia. Binatang,
misalnya adalah “mesin otomatis” yang tidak mempunyai jiwa ataupun perasaan
rasa dan bisa dipakai untuk segala kepentingan manusia. Kemajuan pengetahuan kita
tentang alam adalah kemajuan penaklukan atas ala mini demi “kesejahteraan bagi
seluruh umat manusia”. Bagi Descartes, tugas filsafat adalah:
”Mendapatkan pandangan yang menjadikan hidup ini bisa menghasilkan
buah bukan mengusahakan pengetahuan yang bersifat teoritis (Skolastik),
filsafat harus mengusahakan pengetahuan praktis yang memungkinkan kita
mengenali daya dan kekuatan api, air, udara, bintang, dan segala sesuatu yang
di sekitar kita – seperti halnya pekerjaan yang dijalani oleh para pengrajin.
Dengan demikian, filsafat haruslah mampu memanfaatkan daya dan kekuatan dari
semua unsur tersebut untuk segala macam keperluan praktis manusia sehingga
menjadikan kita sebagai tuan dan pemilik alam ini”.[16]
Kembali kepada keraguan Descartes, seorang filsuf Islam, al-Ghazali, yang pernah
mengalami keragu-raguan (al-shakk) jauh sebelum munculnya Descartes.
Bila perjalanan pemikiran filsafat Descartes berujung pada kelahiran
rasionalisme yang cenderung mengabaikan Tuhan dan agama, maka perjalanan
pemikiran filsafati al-Ghazali sama sekali berbeda dengan Descartes. Al- Ghazali
sampai pada keyakinan yang kuat akan adanya Tuhan dengan melalui jalan tasawuf
yang berpuncak pada ma’rifat, yakni pengetahuan intuitif. [17]
D.
Langkah metode berpikir Rene Descartes
Pada dasarnya, visi dari filsafat Descartes banyak dipengaruhi oleh
ilmu alam dan matematika yang berasas pada kepastian dan kejelasan perbedaan
antara yang benar dan salah. Sehingga dia menerima suatu kebenaran sebagai
suatu hal yang pasti dan jelas atau disebut Descartes sebagai kebenaran yang Clear
and Distinct.
Dalam usahanya untuk mencapai kebenaran dasar tersebut Descartes
menggunakan metode “Deduksi”, yaitu dia mendedukasikan prinsip-prinsip
kebenarannya yang diperolehnya kepada prinsip-prinsip yang sudah ada sebelumnya
yang berasal dari definisi dasar yang jelas.[18]
Banyak kejadian yang ada di luar dugaan kita tentang hal-hal yang
mistis, tak dapat ditangkap dengan indera. Misalnya halusinasi, ilusi, roh
halus, mimpi maupun jaga. Mengenai halusinasi dan ilusi dapat membawa kita pada
pertanyaan: yang mana sesungguhnya yang benar-benar ada, yang sungguh asli?
Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus, bila
dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi, benda-benda
itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi,
ilusi, dan roh halus. Dalam mimpi kita melihat benda-benda itu: adakah beda
yang tegas antara mimpi dan jaga? Begitulah jalan metode cogito.
Metode cogito atau cogito Descartes merupakan metode yang dia
tuangkan dari dua bukunya yang terpenting yaitu Discours de la method (1637) dan Meditation (1642)
atau juga disebut dengan metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt).[19]
Langkah pertama ini, Descartes dapat meragukan benda yang dapat
diinderakan. Apakah sekarang yang dapat dipercaya, yang sungguh-sungguh ada?
Menurut Descartes, dalam keempat keadaan itu (mimpi, halusinasi,
ilusi dan roh halus), juga dalam jaga, ada sesuatu yang selalu muncul. Yang
selalau muncul itu adalah gerak, jumlah, dan besaran (volume). Ketiga inilah
yang lebih meyakinkan adanya. Descartes kemudian mengujinya, yang tiga macam
ini merupakan matematika, kata Descartes matematika dapat salah. Saya sering
menjumlah (angka), salah mengukur (besaran), juga demikian pada gerak. Jadi
ilmu pastipun masih dapat saya ragukan. Ilmu pasti lebih pasti daripada benda,
tetapi saya masih dapat meragukannya.
Ilmu ukur dan ilmu hitung memberi kepastian jika dibandingkan
dengan ilmu alam dan astronomi. Bahkan ternyata hitungan dan ukuran memberi
kepastian juga dalam impian. Tetapi kendati demikian, keraguan bisa terjadi
dalam kedua ilmu ini karena bisa saja Tuhan
membuat saya keliru ketika saya menghitung dan mengukur. Dan andaikan
bukan Tuhan yang membuat saya keliru ketika menghitung dan mengukur, dan
andaikan bukan Tuhan yang membuat aku keliru, maka bisa saja di sana ada setan
yang licik atau jin botak yang berusaha untuk menipu dan menyesatkanku. Kalau
ini benar, maka mungkin sekali bahwa segala sesuatu yang aku lihat hanyalah
bayang-bayang (ilusi) di mana aku terperangkap di dalamnya. Demikian kira-kira
ungkapan Descartes tersebut bila kita terjemahkan ke dalam bahasa yang mudah
dimengerti.[20]
Jadi, benda dan ilmu pasti diragukan. Sampailah dia sekarang dalam
langkah metode ketiga cogito.
Benda inderawi tidak ada-gerak,
jumlah besaran (ilmu pasti) tidak ada-saya ragu, ada-saya ragu karena saya
berfikir-jadi, saya berfikir ada.
|
Descartes memulai filsafat dari
metode. Metode keraguan ini bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah
mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menuju
kepastian. Keraguan Descartes hanya ditunjukkan untuk menjelaskan perbedaan
sesuatu yang dapat diragukan sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri
tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik
keraguan itu, dan menggunakannya untuk membuktikan sesuatu kepastian di balik
sesuatu.
Kemudian, bagaimana memperoleh hasil yang sahih (adequate)
dari metode yang hendak dicanangkan oleh Descartes, terdapat empat hal yang
harus diperhatikan:
1.
Tidak
menerima sesuatu apapun sebagai kebenaran kecuali bila saya melihat bahwa hal
itu sungguh-sungguh jelas dan tegas (clearly and distinctly), sehingga
tidak ada suatu keraguan apapun yang mampu merobohkannya.
2.
Pecahkanlah
setiap kesulitan atau masalah itu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak
ada suatu keraguan apa pun yang mampu merobohkannya.
3.
Bimbinglah
pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang sederhana dan mudah
diketahui, kemudian secara bertahap
sampai pada yang paling dan kompleks.
4.
Dalam
proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal sulit, selamanya harus dibuat perhitungan-perhitungan
yang sempurna serta petimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita
menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam
penjelajahan itu.
Atas dasar aturan-aturan itulah Descartes mengembangkan pikiran
filosofisnya.
E.
Ciri-ciri Filsafat Descartes
Inti dari metode Descartes adalah keraguan yang mendasar. Dia
meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Sehingga dalam berhubungan
dengan realita, Descartes mencoba untuk meragukan segala apa yang diterima oleh
inderanya dan dia berusaha untuk menguak realitas dengan menggunakan akalnya.
Karena menurutnya hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang dapat
disebut sebagai pengetahuan yang ilmiah. Dan kebenaran yang diperoleh melalui
indera mempunyai tingkat kesalahan yang lebih tinggi. Meskipun demikian dia
tidak mengingkari pengetahuan yang diperoleh melalui pengalamaan, hanya saja
pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. [21]
F.
Relevansi pemikiran Descartes dalam Dunia Pendidikan
Setelah menguraikan sistem pemikiran Rene Desartes, setidaknya
dapat diambil point pokok yang dapat diambil relevansinya bagi ilmu pendidikan,
yakni:
Seperti yang telah diketahui bahwa, filsafat rasionalisme Descartes
menekankan bahwa sejatinya sumber pengetahuan adalah rasio/akal. Bukan
pengalaman, pengalaman hanya dapat dipakai untuk menegaskan pengetahuan yang
telah didapatkan dari rasio. Menurutnya, manusia harus berangkat dari pemikiran
yang rasional demi mencapai kebenaran yang pasti, oleh karena itu rasio/akal
harus berperan semaksimal mungkin.
Sehingga disinilah sejatinya pendidikan dan pembelajaran harus
difokuskan pada nalar (reason) dan rasionalitas, yakni guru harus
berusaha membuat murid percaya demi nalar yang baik (reason) dan
guru harus melakukannya dengan cara menghargai penilaian bebas anak didik. Di
sisi lain, sense of reasonableness anak didik harus digali dengan
pengajaran yang sungguh-sungguh, dan tugas guru adalah mendorong serta
memperkaya pemahaman anak didik tentang bagaimana yang membentuk nalar yang
baik.
Misalnya, ketika guru hendak mengajarkan mengenai konsep keEsaan
Tuhan, guru dapat mengemukakan alasan –alasan rasional mengenai hal tersebut.
Untuk dapat mendukung tercapainya tujuan tersebut, sangat
perlu dipahami landasan pokok konsep pendidikan itu sendiri, diantaranya:
1) Pendidikan yaitu konsepsi pendidikan
yang bertujuan mengembangkan rasionalitas.
2) Pengajaran yaitu suatu aktifitas
yang dibatasi oleh cara guru mengajar dan menyerahkan substansi bahan pelajaran
pada keputusan mandiri anak didik, menghormati sense of reason dan sense
of reasonableness anak didik dan memperlakukan anak didik dengan hormat.
G.
Karya-karya Descartes
Karya-karya Descartes cukup banyak. Antara lain:
-
Discours
de la Methode (1637) yang
berarti uraian tentang metode yang isinya melukiskan perkembangan
intelektualnya. Di dalam karyanya inilah ia menyatakan ketidakpuasan atas
filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan penyelidikannya. Dalam bidang
ilmiah tidak ada sesuatupun yang dianggap pasti; semuanya dapat dipersoalkan
dan pada kenyataannya memang dipersoalkan juga. Satu-satunya kekecualian adalah
ilmu pasti. Demikian menurut Descartes.
-
Dioptrique
-
La
Geometrie
-
Les
Meteores Meditationes de Prima Philosophia
-
Principia
Philosophia
-
Le
Monde
-
L’Homme
-
Regulae
ad Dirsctionem Ingnii (sesudah
meninggal)
-
De
la Formation du foetus, dan sebagainya
H.
Pengaruh dan Kritik terhadap Pemikiran Rene Descartes
Kritik adalah suatu bentuk
keniscayaan dalam setiap pengembangan ilmu dan teori-teori keilmuan. Tanpa
adanya kritik, ilmu akan menjadi dogma yang seolah “haram” disentuh. Sehingga,
dengan adanya kritik ilmu dapat memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan
masa lalu. Beranjak dari asumsi tersebut, filsafat rasionalisme Rene Descartes
tidak luput juga dari kritik. [22]
Pengaruh Descartes terlalu sulit untuk ditelusuri seluk beluknya,
oleh karena hampir seluruh aliran filsafat sesudahnya mempunyai impact, setidak-tidaknya
mempunyai akar kesejarahan dari pemikirannya. Problem-problem kefilsafatanlah
yang menjadi dasar atau bahkan dasar pemikiran bagi timbulnya
pemikiran-pemikiran baru yang datang kemudian. Problem pemisahan antara pikiran
dengan zat, antara jiwa dengan badan, antara ruhani dan jasmani yang dirintis
Descartes menurut Harold Titus, terdapat dalam sepanjang sejarah kefilsafatan. [23]
Dalam
menggunakan argumen Desartes ini, diperlukan kehati-hatian. Karena itu “saya berpikir maka saya ada” menyatakan
sesuatu yang lebih dari sekadar
kepastian yang kaku. Barangkali kita seolah-olah merasa cukup yakin sebagai orang
yang sama hari ini seperti di hari kemarin. Dan ini dalam beberapa hal benar.
Tapi, diri sejati sulit dimengerti sama seperti meja sejati, dan tidak,
memiliki kepastian absolut dan meyakinkan seperti yang dimiliki
pengalaman-pengalaman partikular. Misalnya, ketika saya memandang ke arah meja
dan menyaksikan warna cokelat tertentu, yang cukup meyakinkan saat itu juga
bukanlah “saya sedang menyaksikan warna cokelat”, melainkan “warna cokelat sedang dilihat”. Ini
tentu saja melibatkan (atau seseorang) yang melihat warna cokelat tersebut ,
dan tidak melibatkan permanen yang kita sebut “saya” . Sepanjang
menyangkut kepastian segera, boleh jadi sesuatu yang melihat warna cokelat itu
bersifat sementara, dan tidak sama dengan sesuatu yang memiliki pengalaman yang
berbeda-beda pada momen berikutnya.
Dengan demikian, pikiran-pikiran dan perasaan partikular, kitalah
memiliki kepastian primitif. Dan ini
berlaku bagi mimpi dan halusinasi, dan juga bagi persepsi-persepsi normal: pada
saat kita bermimpi atau bertemu hantu, sudah pasti kita merasakan sensasi yang
kita anggap kita miliki dan karena beberapa alasan, dinyatakan bahwa tidak ada
objek fisik satu pun yang sepadan dengan sensasi ini. Jadi, kepastian
pengetahuan kita tentang pengalaman kita sendiri bagaimanapun tidak bersifat
terbatas untuk memungkinkan kasus-kasus khusus. Karena itu, disini kita
memiliki landasan yang kokoh untuk memulai upaya kita mencari pengalaman.
Masalah
yang harus kita pertimbangkan adalah sebagai berikut:
Andai saja kita merasa yakin akan data-indra milik kita sendiri,
apakah kita mempunyai alasan untuk menganggapnya sebagai tanda-tanda eksistensi
sesuatu yang lain, yang dapat kita sebut dengan objek fisik? Pada saat kita
telah menjumlahkan seluruh data-indra yang bisanya kita anggap berkaitan dengan
meja tersebut di atas, sudahkah kita menyatakan segala sesuatu yang seharusnya
dinyatakan tentang meja, atau masih adakah sesuatu yang lain- sesuatu yang
bukan data-indra, sesuatu yang tetap bertahan ketika kita keluar dari ruangan
itu? Akal sehat sudah pasti akan menyatakan ada. Apa yang dapat dibeli dan
dijual, ditekan dan memiliki secarik kain di atasnya, dan sebagianya, tidak
dapat menjadi sekadar suatu koleksi data-indra. Jika kain itu benar-benar
menyembunyikan meja, kita tidak akan memperoleh data-indra dari meja, dan
karena itu, jika meja hanya sekadar data-indra, ia akan berhenti eksis dan kain
itu akan bergantungan di udara kosong, diam, penuh keajaiban, di tempat dulunya
meja itu berada. Ini jelas tampak absurd; tapi siapa saja yang berkeinginan
menjadi seorang filosof harus belajar untuk tidak takut dengan
absurditas-absurditas. [24]
Kritik lain terhadap filsafat Descartes adalah kecenderungannya
yang sangat kuat terhadap subjektivitas, oleh karena terbukti bahwa setiap
orang memiliki kecenderungan, karakteristik dan kapasitas berpikir yang
berbeda-beda. Oleh sebab itu, jika pikiran melulu yang dijadikan tolok ukur
kebenaran, maka kenisbianlah yang akan menjadi buahnya.
Honer dan Hunt mengkritik rasionalisme dari segi kegagalannya yang
menjelaskan perubahan dan pertumbuhan pengetahuan manusia selama ini. Banyak
ide yang sudah dianggap pasti, namun suatu ketika, pada saat yang lain,
mengalami perubahan. Contohnya, mengenai teori bumi yang mengatakan bahwa bumi
adalah pusat sistem matahari (tata surya) yang pernah diterima secara umum
sebagai suatu pernyataan yang pasti, tetapi kemudian pernyataan ini tumbang
dengan sendirinya begitu datang teori baru yang lebih sahih berdasarkan
penelitian empiris.
Kritikan-kritikan yang dialamatkan kepada rasionalisme umumnya dan kepada
Descartes khususnya cukup banyak, khususnya datang dari kelompok empirisme.
Namun demikian, akan kelihatan nanti bahwa baik rasionalisme maupun empirisme,
keduanya tidak luput dari kritikan dan serangan menggebu yang dilancarkan
Immanuel Kant. Semuanya ini menununjukkan bahwa rasionalisme murni berpijak
atas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang goyah sehingga cogito ergo sum tidak
lagi dianggap titik tolak yang memadai.
Selanjutnya, menurut saya untuk mengkritiki pemikiran
Descartes disini, perlu dibenahi dari sikap kritisnya. Sumber pengetahun
menurut Descartes adalah akal, dari akal inilah kita juga mempunyai kemampuan
menjangkau pengetahuan tentang segala hal, termasuk dalam pengetahuan
(substansi) Tuhan. Sebenarnya dalam Islam sendiri telah dikenal dengan tradisi
keilmuan Islam. Muhammad Abed al-Jabiri, seorang pemikir muslim kontemporer
asal Maroko yang membuat klasifikasi ilmu dalam Islam secara epistemologis.
Menurutnya, nalar pemikiran Islam dapat dikategorikan ke dalam tiga
epistemologis, yaitu epistemologi bayani, ‘irfani, dan burhani. Dalam
pandangan Amin Abdullah ketiga nalar keilmuan tersebut tidak dapat berdiri
sendiri, namun harus saling berhubungan dengan satu nalar dengan yang lain.[25]
Kembali kepada pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan
tentang alam materi, walaupun pengetahuan itu diberikan secara ilmiah, belumlah
tentu dan pasti kebenarannya. Kebenarannya masih bisa diragu-ragukan. Bahkan
al-Ghazali berkata bahwa, baginya akal tidak membawa kepada keyakinan.
Al-Ghazali lebih percaya kepada qalb yang dapat sampai ke ma’rifat dalam
faham tasawwuf. [26]
BAB III
PENUTUP
Inti dari pemikiran Rene Descartes adalah berangkat dari
sebuah keragu-raguan akan segala sesuatu. Sehingga Descartes mampu mengubah
dunia melalui pemikirannya yang luar biasa. Karena penemuannya yang fenomenal,
ia dijuluki sebagai “Bapak Filsafat Modern”.
Keragu-raguan Descartes ini hanya sebagai metodos, bukanlah
ia ragu-ragu sesungguhnya seperti skepsis, melainkan untuk mencapai kepastian.
Dan tercapailah kepastian itu menurut dia. Kepastian yang dapat pada kesadaran
inilah yang dipakai menjadi pangkal pikiran dan filsafatnya. Disisi lain, akal
atau rasio inilah yang menjadikannya menemukan pangkal untuk bertindak
seterusnya dan mengadakan sistem filsafat. Menurutnya, hanya rasio sajalah yang
dapat membawa orang kepada kebenaran. Dan rasio pulalah yang dapat memberi
pimpinan dalam segala jalan pikiran. Dari pemikiran ini, tentunya juga tidak
lepas dari kritik para filosof lain, yang menentang argumennya.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, PT. Raja
GrafindoPersada, Jakarta, 1995
Nasution,
Harun, Falsafat Agama, PT. Bulan Bintang, Jakarta cet. ke-5, 1985
Russel,
Bertrand, The Problems of Philosophy
(Persoalan-persoalan Seputar Filsafat), terj. Ahmad Asnawi, Ikon
Teralitera, Yogyakarta, 2002
Petrus L. Tjahjadi, Simon, Petualangan Intelektual, Kanisius,
Yogyakarta, 2004
Pokja Akademik
UIN Sunan Kalijaga, Pengantar Studi Islam, POKJA UIN, Yogyakarta 2005
Poedjawijatno, Pembimbing ke Arah
Alam Filsafat, PT. Pembangunan, Jakarta, 1980
Praja, Juhaya S, Aliran-aliran
Filsafat dan Etika, Kencana, Jakarta, 2003
http://cahayakhaeroni.blogspot.com/2011/10/epistemologi-rasionalisme-rene.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013
http://diyahpuspitasari75.blogspot.com/2012/12/bab-i-pendahuluan-a.html, diakses pada Sabtu, 9 Maret 1993
http://fauzihambalii.blogspot.com/2012/10/makalah-rene-descartes.html, diakses pada
Kamis, 21 Maret 2013
http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/2010/11/rasionalismerenedescartes.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013
[1] http://fauzihambalii.blogspot.com/2012/10/makalah-rene-descartes.html, diakses pada
Kamis, 21 Maret 2013
[2]Norman Kemp
Smith, New studies in The Philosophy of Descartes (New York, Russel
& Rossek Inc., 1996), hlm. 3 (dikutip dalam buku Juhaya S, Praja, Aliran-aliran
Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana, 2003), hlm. 92
[3] Asmoro
Achmadi, Filsafat Umum (Jakarta:
PT. Raja GrafindoPersada, 1995), hlm.
109
[4]
http://fauzihambalii.blogspot.com/2012/10/makalah-rene-descartes.html, diakses pada Kamis, 21 Maret 2013
[5] Simon Petrus
L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual (Yogyakarta:Kanisius,
2004), hlm.206
[6]http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/2010/11/rasionalisme-renedescartes.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013
[7] http://cahayakhaeroni.blogspot.com/2011/10/epistemologi-rasionalisme-rene.html, diakses pada Ahad, 3 Maret 2013
[8] Simon
Petrus…hlm.207
[9]Skolastik adalah sistem logika, filsafat,
dan teologi para sarjana Abad Pertengahan atau orang terpelajar abad ke-10 hingga
abad ke-15, berlandaskan logika Aristoteles dan tulisan para ahli agama Kristen
zaman permulaan agama.
[10] Asmoro
Achmadi…hlm. 109
[11] Poedjawijatno,
Pembimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: PT. Pembangunan, 1980), hlm.
93
[12] Asmoro
Achmadi… hlm. 109
[13] Juhaya S.
Praja…hlm.97
[14] Simon
Petrus…hlm. 208
[15] Paham “idea
bawaan” mempunyai arti ganda. Di satu pihak, paham ini menunjuk kepada sifat
psikogenetik: Ide-ide ini berasal dari Allah dan ditanamkan oleh Nya, ke dalam
jiwa manusia. Di pihak lain, paham ini menunjuk pada kualitas yang dimuat dalam
pengertian itu: ide-ide ini bisa ditemukan dalam kesadaran manusia itu sendiri,
terlepas sama sekali dari pengaruh dunia empiris. (dikuti dari buku Simon
Petrus… hlm 208)
[16] Descartes, Discours
de la Methode pour bien conduire la Raison & chercher la Verite dans les
sciences (1637), diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh K. Fischer, VI,
Stuttgart, 1973, hlm. 31 (dikutip dalam buku Simon Petrus…hlm. 210)
[17] Juhaya S.
Praja…hlm. 97
[18] http://diyahpuspitasari75.blogspot.com/2012/12/bab-i-pendahuluan-a.html, diakses pada Sabtu, 9 Maret 1993
[19]http://filsafatrenedescartes.blogspot.com/2010/11/rasionalisme-rene-descartes.html, diakses pada
Ahad, 3 Maret 1993
[20] Juhaya S.Praja…hlm.97
[21]http://diyahpuspitasari75.blogspot.com/2012/12/bab-i-pendahuluan-a.html, diakses pada Sabtu, 9 Maret 2013
[22]http://cahayakhaeroni.blogspot.com/2011/10/epistemologi-rasionalisme-rene.html, diakses pada
3 Maret 2013
[23] Juhaya S.
Praja…hlm.100
[24]Bertrand Russel, The Problems
of Philosophy (Persoalan-persoalan
Seputar Filsafat), terjemahan Ahmad Asnawi (Yogyakarta:Ikon Teralitera, 2002),
hal. 17
[25]Pokja Akademik
UIN Sunan Kalijaga, Pengantar Studi Islam (Yogyakarta:POKJA UIN, 2005),
hlm. 96
[26] Harun
Nasution, Falsafat Agama (Jakarta:PT. Bulan Bintang, cet. ke-5, 1985),
hlm.10