''Janganlah Anda Mempelajari suatu ilmu dengan maksud untuk berbangga-bangga dengan ulama', atau orang-orang bodoh, bukan pula untuk berkata dalam persidangan, tetapi pelajarilah ilmu demi Keridhaan Allah dan untuk Akhirat"
Minggu, 17 Februari 2013
MEMAHAMI DILEMA "JABR" DAN "IKHTIAR"
Sementara orang berkata kepada Allah,
"Kalau bukan karena kehendakMu, maka tidak akan terjadi sesuatu, Kenapa saya dituntut harus bertanggung jawab".
Sebenarnya manusia bebas berkehendak. Ia "dipaksa" oleh kehendaknya yang bebas itu, dan dengan kehendaknya itu, ia bebas menentukan pilihan yang benar, dan ia berhak memperoleh balasan yang baik. Tuhan membantu manusia untuk memperoleh apa yang dia kehendaki bagi dirinya.
Kemauan/kehendak adalah suatu kekhasan istimewa yang secara konkret memang ada pada manusia. Dengan keistimewaanya, manusia dibebani amanah yang wajib dilaksanakan (taklif. Dan dengan keistimewaannya, manusia dapat meningkat dan merosot, dapat bersyukur bahkan ingkar.
Dalam QS-Al MUdatsir ayat 31:
وما جعلنا أصحاب النار إلا ملائكة وما جعلنا عدتهم إلا فتنة للذين كفروا ليستيقن الذين أوتوا الكتاب ويزداد الذين آمنوا إيمانا ولا يرتاب الذين أوتوا الكتاب والمؤمنون وليقول الذين في قلوبهم مرض والكافرون ماذا أراد الله بهذا مثلا كذلك يضل الله من يشاء ويهدي من يشاء وما يعلم جنود ربك إلا هو وما هي إلا ذكرى للبشر
Telah dibenarkan kenyataan-kenyataan tersebut. Lihat juga QS 14:27 dan QS 39:3
Jadi, persoalnnya bukan karena Allah hendak menyesatkan dan menyiksa manusia lalu menyesatkan orang saleh agar terjerumus ke dalam azab dan hukuman. Namun ia memanfaatkan takdir untuk memenuhi/menempuh jalan yang dipilihnya sendiri bebas. Makin nekat orang berbuat kejahatan, makin tebal dinding yang menutup penglihatan batinnya, sehingga batinnya bertambah gelap. Dalam QS 83:14. Jadi pada dasarnya, sebelum Allah menghendaki kesesatan, seorang manusia sudah lebih dulu menyesatkan dirinya, QS 61:5 dan QS 4:115.... Wallahu 'a'lam bisshowab...
Langganan:
Komentar (Atom)